Daun Kering
June 1st, 2008 by ariefmizan
Kadang aku berpikir
Kita seperti daun kering yang tua
Bertahan di dahan
Menunggu
Kapan sang angin menghembus dan menerbangkannya
Sesuka hati
Hingga jatuh ke bumi
Nol Empat
Kusimpan ibu jariku
Harapanku adalah harapan berjuta manusia
Dari sebuah negeri
yang kaya rempah…dahulu
Hijau hutannya…dahulu
Makmur rakyatnya …dahulu
Sebuah bola baru
- oleh-oleh dari sebuah pertandingan dua babak yang seru –
bergulir di atas daun kering itu
Menggelinding pula harapanku di atasnya
Sebuah bola baru yang dibungkus kain usang
Balutan kenyataan masa lalu yang kotor
Dan angan-angan masa depan yang suram
Di atas daun tua yang kekeringan
Hanya menunggu angin yang sedikit kencang
Bencana yang sedikit menghujam
Masih mampukah bertahan di dahan?
…
Setelah seekor burung putih
Tergelincir dari landasannya
menghantam pembatas
antara kehidupan dan kematian
air kemudian mengikis kota-kota
membelah hutan
menambah lautan
menyisakan segelintir jiwa yang tak mengerti
“mengapa kami?”
Ternyata angin belum begitu kencang
Belum mampu menahan diri dari pesta
Nol Lima
Kubuka lima jemariku
Seperti hari-hari kemarin
Negeri tempat lahirku
Selalu dirudung duka
Usai pesta tadi malam aku baru teringat
Akan angin yang meniup daunku
O…aku berada di sini
Di Indonesiaku
Yang kini bertarung antara harapan, ambisi para raja
Dan cita-cita masa depan yang sekedar wacana
Dan harapan adalah khayalku
Khayal beratus juta manusia
Dari sebuah negeri
yang hilang rempahnya…kini
Hijau hutannya silahkan ambil sesuka hati…kini
Makmur rakyatnya …mungkin nanti
Hanya untuk melengkungkan bibir membentuk senyum
…
Atau angin terlalu lembut
Membelai daunku
Hingga tak mampu rasakan tangis mengiris
Barangkali satu tiupan lagi untuk menguji
Masih kuatkah bertahan di dahan?
Depok,310105
